Politic, Astronomy, Film

Merry Christmas 25 Dec 2018 and Happy New Year 2019. God Bless Us always!!

2018

Merry Christmas and Happy New Year 2018. May all our dreams come true in this year

2016. Being speakers 16 conferences, including 2 times as Moderator and 3 times winning national essay competitions. HAPPY NEW YEAR 2017!!!

Merry Christmas 2015 and Happy New Year 2016. Hope your blessing days more unique than my banal salutation :)

I really like Anne Kendrick. She is not really beautiful, but she has strong funny character and she can turn in on to other persons. This is one theme song of her movie, Pitch Perfect 2.

Lomba Lombok - Jeanne Francoise

“Pulau Lombok: Poros Pariwisata Perdamaian Dunia”

Oleh: Jeanne Francoise, S. Hum*

“Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness” -Mark Twain-

“Siapa yang belum pernah ke Pulau Lombok tunjuk tangan!”. Teriak dosen Bahasa Indonesia-ku dulu yang kebetulan berasal dari Bima. Beliau pun menjelaskan bahwa kata “Lombok” itu berasal dari Bahasa Kawi yang berarti “jujur”. Kejujuran Pulau Lombok tercermin pada kinerja pemerintahannya, keindahan pantainya, keramahan penduduknya, dan potensi pariwisatanya. Pulau Lombok merupakan daerah pariwisata di zona Waktu Indonesia Tengah yang cukup unik. Dari bentuk Pulau-nya saja terlihat ada ekornya. Di Pulau Lombok pula, turis dapat mengenal lebih dekat kehidupan suku Sasak dan syukur-syukur hadir berwisata di waktu yang tepat, dimana terdapat beragam festival budaya.

            Pulau Lombok menjadi saksi bisu persinggungan perjanjian damai antara kerajaan beragama Islam dan kerajaan beragama Hindu yang ditunjukkan lewat keberadaan Pura Lingsar. Pulau Lingsar menjadi situs perdamaian dan kini menjadi tempat berdoa penduduk Hindu dan Muslim di sana. Damainya suku beragama Islam dan suku beragama Hindu di Pulau Lombok juga terpatri di bangunan Taman Mayura yang arsitekturnya merupakan gabungan dari arsitektur Islam dan Hindu. Sungguh indah, saudara-saudara! Sungguh indah!

Karena Pulau Lombok-lah, kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga sebangga-bangganya karena titik damai Hindu dan Muslim telah ditemukan di Pulau Lombok, sekali lagi, telah ditemukan di Pulau Lombok. Sejarah tersebut akan dicatat di buku manapun di seluruh dunia dan akan masuk ke dalam kajian pembelajaran (lesson learned) bagi akademisi-akademisi dan politisi-politisi resolusi konflik untuk menghentikan bentrokan berdarah Hindu-Muslim yang sekarang masih terjadi di India dan Pakistan.

Satu lagi keunikan Pulau Lombok yang perlu saudara-saudari bagikan kepada dunia adalah rasa keberterimaan Pulau Lombok terhadap orang asing dan terhadap modernisasi. Di Bale Kambang, salah satu bangunan Istana Air Mayura, saudara-saudari dapat melihat simbol multikulturalisme berupa patung-patung kerajaan Jawa, Cina, Arab, Muslim, dan Hindu yang dibangun pada tahun 1744. Hal tersebut merupakan pertanda dan penanda (signifiant et signifié) bahwa perdamaian di Pulau Lombok telah ada sebelum konsep “Indonesia” itu sendiri ada. Demikianlah teori analisis pencarian makna situs sejarah oleh ilmuwan Prancis, Ferdinand de Saussure, yang banyak dikutip oleh para arkeolog. Di Bale Kambang, saudara-saudari juga dapat melihat air mancur yang menjadi simbol modernisasi dunia arsitektur pada zaman itu. Oleh sebab itu, warisan pemikiran yang damai ini perlu dipertahankan melalui pariwisata.

Sumber: http://oediku.wordpress.com/2010/12/29/sejarah-dan-asal-usul-lombok/

Mengapa pariwisata? Sejak konflik dan terorisme meningkat di dunia sejak tahun 2001, PBB membentuk UN World Tourism yang mencoba menggabungkan konsep wisata dengan konsep perdamaian, bahwa tujuan berwisata adalah perdamaian dan penduduk lokal tujuan tempat wisata merupakan subjek pariwisata, bukan objek semata. Pada tahun 2011, Dewan Turisme dan Travel Dunia mencatat turisme menyumbang 9,1% GDP dunia dan 8,3% lapangan kerja dengan lebih dari 255 juta pekerja (http://wttc.org).

Pariwisata juga merupakan sektor yang tidak pernah mati. Bahkan, Yunani yang dilanda krisis hebat tahun 2012, perlahan-lahan mulai menunjukkan kemajuan ekonomi karena ditopang oleh sektor pariwisata. Begitu pula dengan Korea Selatan, negara yang selalu bersitegang dengan tetangganya ini, menjadikan perbatasan Korea Utara-Korea Selatan menjadi obyek pariwisata yang amat diminati dunia dan menjadi salah satu pemasukan terbesar pendapatan negara ginseng itu. Tengah tahun kemarin, penulis sendiri pernah kesana dan sudah membuktikan antusiasme para turis dunia di sana.

Demikianlah pariwisata merupakan kunci perdamaian abad baru, kunci diplomasi yang unik, dan alat propaganda positif yang paling ampuh. Ahli pariwisata perdamaian, Satani, mengatakan kegiatan pariwisata adalah praktik kesenangan diri dan praktik bisnis (2004:16,60). Pariwisata adalah satu-satunya sektor yang menghadirkan perdamaian dan menghilangkan konflik dan tensi yang ada karena dalam level analisis yang lebih dalam, para turis itu dapat menilai dan merefleksikan keragaman budaya mereka sendiri ketika berinteraksi dengan penduduk lokal tempat tujuan wisata.

Lantas apa yang dapat ditawarkan Pulau Lombok tentang pariwisata perdamaian itu? Bulan ini ada World Travel Writers Gathering, tahun depan ada ASEAN Free Trade 2015, lima tahun lagi ada Pemilu Presiden, 10 tahun lagi ada Konferensi Pariwisata Dunia, dan 20 tahun lagi diharapkan ada ASEAN Security Unity. Pulau Lombok perlu mengambil momentum-momentum tersebut. Banyak dari orang terkenal dan aktor-aktris Hollywood pernah ke Pulau Lombok, namun belum ada asas timbal balik bagi Pulau Lombok yang signifikan.

Pulau Lombok sendiri jarang menjadi objek pameran pariwisata di event-event KBRI. Sejarah perdamaian di Pulau Lombok pun jarang terpampang di museum-museum di luar negeri, mungkin artefak suku Sasak masih ada disimpan di Universitas Leiden, Belanda, namun itu belumlah cukup memperkenalkan pariwisata perdamaian Pulau Lombok kepada dunia.

Kegetiran tentu perlu dirasakan oleh penduduk lokal, pemerintah daerah, dan kita sebagai bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, tulisan ini bermaksud mengusir kegetiran tersebut.
Karena fakta sejarah panjang tentang perdamaian yang pernah ada di Pulau Lombok, maka perlu dibangun Museum Perdamaian dan Resolusi Konflik di Pulau Lombok. Museum itu akan menjadi Museum Perdamaian dan Resolusi Konflik pertama di ASEAN.

Pembangunan Museum Perdamaian dan Resolusi Konflik sangat cocok di Pulau Lombok karena ketika para turis menginjak Pulau Bali, pemandu dapat dengan segera mempromosikan pulau sebelahnya, Pulau Lombok dengan menawarkan paket wisata perdamaian, dan ketika para turis sampai ke sana, pemandu dapat dengan segera menawarkan paket perjalanan ke Indonesia bagian timur. Demikianlah pulau-pulau di Waktu Indonesia Timur dapat terjamah. Pulau Lombok merupakan pintu ke arah timur Indonesia. Penerbangan lokal pun sudah sangat bagus di Pulau Lombok sejak tahun 2010.

Budaya damai di Pulau Lombok tentu tidak terbangun begitu saja dalam semalan, penduduk Pulau Lombok telah merasakan berbagai macam konflik berdarah dan perjanjian-perjanjian damai. Tidak hanya dalam sejarah pra-kemerdekaan seperti Perang Puputan, namun apabila saudara-saudari masih ingat, ada konflik Sunni-Syiah di Kota Mataram tahun 2008, yang berhasil diatasi dengan baik melalui rembuk warga. Inilah juga bukti bahwa penduduk Lombok mengedepankan kearifan lokal perdamaian. Tentu harunsya kita sebagai bangsa Indonesia dapat mendefinisikan Lombok sebagai tujuan turisme universal yang atraktif dengan pesona alamnya, budaya, dan infrastruktur yang menunjang para turis untuk merasakan liburan yang sebenarnya, yakni liburan yang berbasis olahraga, budaya, dan rekreasi.

Semoga 10 tahun lagi, ketika saudara-saudara menginjak Pulau Lombok telah ada Museum Perdamaian dan Resolusi Konflik tersebut. Turis yang datang ke Pulau Lombok juga dapat melakukan wisata alam dengan menikmati objek-objek wisata yang ada, misalnya mengikuti ritual “mandi awet muda” di Taman Narmada, foto selfie di Pura Agung Gunung Sari sebagai situs Perang Puputan, membeli oleh-oleh kain tenun di Desa Sukarare, melihat rumah adat orang Sasak di Sengkol dan Desa Tepas, “menangkap” matahari terbenam di Pantai Batu Bolong, Pantai Senginggi, Pantai Hu’u, Pantai Ule, dan Pantai Wane. Apabila saudara-saudari seorang hikers, saudara-saudari bisa menancapkan Sangsaka Merah Putih di Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, kemudian dapat melihat Istana Kasultanan Bima di Bima, dan mencari Moluccan Scops Owl Otus magicus di Pulau Moyo.

Sumber: http://www.owlpages.com/image.php?image=species-Otus-magicus-3

“Setiap Anda bepergian, cobalah makanan lokal”, demikian kutipan terkenal sastrawan Joseph Conrad. Adegium gastronomi mengatakan lidah itu tidak bertulang. Maknanya adalah lidah tidak pernah menolak makanan yang masuk, apalagi makanan enak. Pulau Lombok adalah surga makanan. Ada Plecing Kangkung, Ayam Taliwang, Sate Bulayak, Nasi Balap Pucung, Sate Rembiga, Sate Tanjung, Poteng Jaje Tujak, Bebalung, dan Beberuk Terong. Penulis sengaja tidak akan menjelaskan itu makanan apa dan bagaimana rasa setiap masakan, saudara-saudari rasakan sendiri dengan datang ke Pulau Lombok!

Mulai sekarang mari kita ubah pola pikir kita, bahwa poros pariwisata itu di ASEAN, bahwa di ASEAN itu, Indonesia-lah yang paling siap menampung datangnya turis sebagai efek kemudahan-kemudahan ASEAN Free Trade 2015. Pulau Lombok harus siap, pemerintah Indonesia harus siap, saudara-sekalian yang membaca tulisan ini juga harus siap menonjolkan pariwisata perdamaian di Pulau Lombok. Tunjukkanlah kepada dunia ada apa saja di Pulau Lombok sebagai simbol kita ini bangsa yang cinta damai, suka damai, dan senang berdamai.

            Demikianlah tulisan ini mengenai pariwisata perdamaian di Pulau Lombok. Pulau Lombok itu ada karena adanya perdamaian yang diusahakan dan dikondisikan. Masa depan Pulau Lombok ada di tangan kita, mau menjadikan Pulau Lombok sebagai poros pariwisata perdamaian dunia ataukah hanya pulau tempat bule jalan-jalan membuang sampah? Seperti di Indonesia, Kota Bekasi di-bully di sosial media, maka di Uni Eropa, Ukraina di-bully di sosial media, sebagai negara dengan sex-tourism yang paling terkenal di Eropa. Pulau Lombok bukan Yunani, bukan Korea Selatan, juga bukan Ukraina, buktikanlah kepada dunia Pulau Lombok adalah poros pariwisata perdamaian di ASEAN. Pulau Lombok, pulau perdamaian.

            Berikut adalah contoh blueprint pariwisata perdamaian di Pulau Lombok.

*) Peserta adalah mahasiswa tingkat akhir Program Studi Pascasarjana Damai dan Resolusi Konflik, Universitas Pertahanan dan mantan jurnalis Majalah Fortune Kompas-Gramedia. Politik, astronomi, dan film adalah tiga bidang yang paling diminatinya. Lihat blog pribadi di www.jeannefrancoise.tumblr.com.

saharareporters:
“ Caliph-Of-Hate By Hannatu Musawa
Whether the insurgent leader in Nigeria is dead, alive or in purgatory, this unacceptable level of violence against the people of Nigeria, the shocking vigilance to create instability in the North...

saharareporters:

Caliph-Of-Hate By Hannatu Musawa

Whether the insurgent leader in Nigeria is dead, alive or in purgatory, this unacceptable level of violence against the people of Nigeria, the shocking vigilance to create instability in the North Eastern part of the country, the persecution, oppression, threats to people, the crimes, cannot be accepted under any circumstance whatsoever.

This good for nothing, barbaric, ignorant, repulsive, misguided, abhorrent assassins, who could almost be described as being under some fallacy that they have been cast as the antagonists in the most violent of the Quentin Tarantino movies must realize that the atrocities they continue to commit cannot be forgiven, forgotten and can certainly not go unanswered.

READ MORE…

congressarchives:

225th Anniversary of the First Congress: We’ll be posting documents and stories highlighting the establishment of the new government under the Constitution through March 2016.

Rhode Island’s path to ratifying the Constitution was a bumpy one. After rejecting the Constitution numerous times, the United Sates gave Rhode Island a deadline of January 15, 1790 to either call a new ratifying convention or have it’s exports to the U.S. taxed as foreign goods.

On September 26, 1789, President George Washington forwarded this message from Rhode Island’s Governor John Collins explaining Rhode Island’s hesitancy over ratifying the Constitution. The January deadline was postponed after Congress received a second letter which outlined plans for a ratifying convention in March 1790. The convention adjourned without taking a ratification vote, and Congress again considered legislation to treat Rhode Island as a foreign state.

On May 29, Rhode Island finally ratified the Constitution. They included with their ratification a list of 18 human rights and 21 proposed amendments. Most of the 21 amendments were included in the Bill of Rights passed by Congress and sent to the states for adoption. On June 30, Rhode Island passed all 12 of the proposed amendments, though only amendments 3 through 12 would be adopted as the first 10 amendments to the Constitution.

Message from President George Washington Enclosing a Letter from Rhode Island Governor John Collins, 9/26/1789, Sen 1A-E2, Records of the U.S. Senate